Transformasi Digital Dan Evolusi Aplikasi

0
37

Foto: App StoreFoto: App Store

Jakarta – Seabad lalu, kita mengalami revolusi industri. Revolusi tersebut telah mengubah cara kita dalam melaksanakan proses manufaktur/pembuatan produk, apa pun jenisnya.

Memasuki era modern dikala ini, kita tengah berada di revolusi industri keempat, yang ditandai dengan perpaduan teknologi yang mengaburkan batas antara dunia fisik, digital, dan biologis.

Banyak perusahaan telah memulai perjalanan transformasi digital untuk mencoba cara digital gres dalam berbisnis. Ini berarti, data dimanfaatkan secara lebih cerdas untuk menghadirkan tingkat efisiensi, kelincahan (agility), dan produktivitas yang belum pernah dicapai sebelumnya.

Teknologi, dari ponsel sampai cloud, kini telah menjadi bab integral dari setiap bisnis di semua jenis industri. Perusahaan yang gagal memilih taktik digital yang efisien dan memaksimalkan efek digitalisasi, berisiko tertinggal oleh perusahaan/pesaing lainnya.

Jika selama ini data berperan sebagai tulang punggung transformasi digital, ‘keajaiban’ justru ada pada software aplikasi (app), alasannya perusahaan kini sudah memakai rata-rata lebih dari 200 aplikasi.

Pada dikala yang bersamaan, organisasi nirlaba yang banyak menerbitkan riset di bidang teknologi dan medis-PLOS-dalam risetnya baru-baru ini menemukan bahwa kita mengecek ponsel kita sepertiga kali dari total waktu dikala terbangun, dan 85% dari waktu tersebut dihabiskan untuk memakai aplikasi.

Mobile telah menjadi pendorong utama banyaknya software dan aplikasi yang dikembangkan/diciptakan selama ini. Gelombang kehadiran Internet of Things (IoT) yang akan tiba hanya akan mempercepat tren ini.

Namun, mari kita mundur sejenak dan mengulang masa-masa beberapa tahun atau bahkan puluhan tahun lalu, untuk memvisualisasikan sejarah aplikasi.

Transformasi Digital dan Evolusi AplikasiFoto: Facebook.com/muzeummobilovsk

Aplikasi awalnya dibangun sebagai alat bantu komunikasi (telepon, SMS), yang kemudian bermetamorfosis sebuah platform untuk menampung konsumsi konten pada tahap awal data (berita, MMS, dan YouTube).

Dan pada akhirnya, aplikasi pun menjadi apa yang kini kita definisikan sebagai layanan menurut seruan (pengiriman makanan, transportasi, dan e-commerce). Bahkan, kita mempunyai beberapa aplikasi, menyerupai WeChat yang meliputi ketiga ‘fungsi’ aplikasi tersebut.

Bagaimana semua ini sanggup terjadi? Mari kita lihat bagaimana aplikasi menjadi bab penting dari kehidupan kita dan bagaimana aplikasi mengalami perubahan dan perkembangan yang dramatis.

Kebutuhan Komunikasi yang Lebih Cepat

Fakta: Telepon seluler pertama di dunia diciptakan pada 3 April 1973 oleh Martin Cooper, seorang insinyur senior di Motorola. Namun, gres 1983 ponsel komersial pertama mulai dijual di AS seharga USD 4.000, dan pesan teks (SMS) gres dikirim pertama kalinya pada tahun 1992.

Transformasi Digital dan Evolusi AplikasiFoto: Istimewa

Namun, ponsel dikala itu masih berukuran besar dan tebal, dan inovasinya masih didorong impian berkomunikasi tanpa batasan (untethered). Keinginan inilah yang telah mendorong evolusi teknologi komunikasi, mulai dari panggilan telepon dan pesan teks sederhana (SMS) sampai percakapan dan interaksi real time melalui fitur aplikasi baru, menyerupai panggilan video (voice call).

Pengalaman (experience) pengguna yang kian baik pun tercipta, seiring tuntutan bagi pengembang aplikasi untuk meningkatkan dan memperbarui aplikasinya, sekaligus membuat aplikasi menjadi sederhana dan gampang digunakan-atau berisiko kehilangan pengguna mereka yang beralih ke pesaing.

Ponsel memungkinkan komunikasi instan. Inilah yang dimaksud dengan komunikasi yang lebih cepat, yaitu membuat layanan komunikasi menjadi tersedia dan andal, sekaligus responsif dan mengakselerasi inovasi. Kebutuhan akan kecepatan penemuan inilah yang masih berlaku sampai sekarang.

Membuat Konten yang Lebih Cerdas

Setelah komunikasi instan tercapai, tahap selanjutnya dalam evolusi ini yaitu menyediakan konten.

Sebelum iOS dan Android, terdapat IBM’s Simon sebagai smartphone (Personal Communicator) pertama. Diluncurkan pada tahun 1994, smartphone Simon telah menyediakan lebih dari 10 aplikasi bawaan (built-in).

Selain berfungsi sebagai alat komunikasi, ponsel juga mulai berfungsi sebagai platform untuk mengkonsumsi konten. Saat ini, konsumen dan pengguna tamat (end-user) sanggup mengkonsumsi konten di mana saja, tanpa harus duduk di depan PC desktop.

Video, musik, game; semuanya kini sudah tersedia melalui ujung jari pengguna. Bahkan, sebagian besar situs web telah menerapkan protokol web modern untuk menampilkan animasi menarik secara dinamis, dan melacak sikap pengguna untuk mengatakan komunikasi terbaik atau menindaklanjuti impian konsumen.

Intinya, konten yang diperkaya ini berbicara wacana peningkatan pengalaman pengguna (user experience) yang berujung pada loyalitas pelanggan. Konten yang lebih cerdas membuat hal ini melalui analisis dan pelacakan sikap pengguna untuk membuat interaksi pelanggan yang lebih personal menurut pengenalan pengguna yang cerdas.

Tuntutan akan Pengalaman yang Lebih Aman

Saat ini, kehidupan kita berdinamika di sekitar aplikasi mobile. Baik dikala bangkit di pagi hari, melaksanakan latihan meditasi singkat, bernavigasi via rute ke kantor atau bahkan membuat reservasi makan malam.

Aplikasi memungkinkan Anda untuk melaksanakan hampir semua hal dan membuat semuanya hanya dengan sekali klik. Gagasan wacana kecerdasan yang hakiki (sebenarnya), baik smart city, smart home, smart health, dan smart retail, kini sudah berkembang.

Selain itu, prinsip sharing economy menjadi daya tarik di seluruh wilayah alasannya kecepatan dan kenyamanan yang diberikannya. Namun, ketergantungan pada aplikasi yang semakin besar ini menuntut peningkatan kewaspadaan dalam aspek keamanan.

Konsumen dikala ini bersedia untuk mengorbankan informasi langsung guna mengurangi beberapa detik waktu tunggu yang berharga. Hal ini berarti banyak sekali perusahaan yang mempunyai aplikasi tengah membuat keseluruhan ekosistem perangkat dan data yang saling terkait (terkoneksi), yang merupakan sebuah harta karun bagi para penjahat siber.

Risikonya, serangan siber bukan hanya menyebabkan kerugian pendapatan, tapi juga kerugian reputasi, yang menyebabkan pelanggan beralih ke layanan alternatif.

Selanjutnya Apa?

Seiring dengan pertumbuhan aplikasi, perusahaan dari banyak sekali skala mengikuti keadaan dengan ekonomi digital gres dengan mengandalkan cloud untuk mengakselerasi proyek-proyek transformasi digital.

Selain itu, meskipun banyak sekali kerentanan (vulnerabilities) kritis dan malware berbahaya muncul silih berganti, ancaman keamanan fundamental tetap ada bagi data konsumen dan perusahaan.

Ini berarti, setiap aplikasi yang sukses harus cepat, responsif, dan dipersonalisasi, sekaligus memberi ketenangan bagi para pelanggan. Oleh alasannya itu, perusahaan harus mencari solusi-solusi yang berpusat pada aplikasi (app-centric) guna memastikan aplikasi mereka lebih cepat, lebih cerdas, dan lebih aman.

Transformasi Digital dan Evolusi AplikasiPenulis, Fetra Syahbana, merupakan Country Manager dari F5 Networks Indonesia.