Perlukah Distributor Diam-Diam Akuisisi Broadcom Demi Jegal Qualcomm?

0
24

Foto: Reuters/Tyrone SiuFoto: Reuters/Tyrone Siu

Jakarta – Rencana Broadcoam mencaplok Qualcomm dengan mahar ribuan triliun rupiah diprediksi akan mengganggu bisnis Intel di banyak sekali sektor. Perlukah Intel kemudian mengakuisisi Broadcom?

Seorang analis berpendapat, akuisisi yang akan dilakukan oleh Intel terhadap Broadcom tidak akan terjadi. Adalah Handel Jones, seorang konsultan dari International Business Strategies, yang menyampaikan hal tersebut.

“Intel tidak akan bertambah berpengaruh meski mereka benar-benar mengakuisisi Broadcom. Bagi saya, Intel tidak akan mendapat manfaat apapun,” katanya, sebagaimana Gobekasi kutip dari Wall Street Journal, Senin (12/3/2018).

“Produk-produk yang dimiliki Broadcom, tidak akan berpadu dengan baik terhadap operasional manufaktur Intel,” ia menambahkan. Selain itu, Intel sendiri sudah melaksanakan sejumlah tindakan akuisisi dalam beberapa waktu terakhir.

“Kami telah melaksanakan sejumlah akuisisi penting selama lebih dari 30 bulan terakhir, menyerupai terhadap Mobileye dan Altera. Fokus kami pun yakni mengintegrasikannya dengan perusahaan dan membuatnya bermanfaat kepada pelanggan dan pemegang saham,” ujar juru bicara Intel.

Mobileye sendiri, yang merupakan firma teknologi kendaraan otonom, dibeli Intel pada tahun lalu. Sedangkan Altera, perusahaan pembuat chip, diambil alih pada final 2015, sekaligus menjadi akuisisi terbesar Intel dengan nilai USD 16,7 miliar.


Meski begitu, analis Stacy rasgon dari Bernstein Research menyampaikan bahwa Intel akan menghadapi tantangan besar jikalau Qualcomm benar-benar menyatu dengan Broadcom. Ia berkaca pada campuran pendapatan keduanya yang mendekati USD 40 miliar pada tahun fiskal 2017.

Angka tersebut sudah mendekati torehan yang dicapai oleh Intel, yaitu USD 63 miliar dalam periode yang sama. Telebih, Broadcom dan Qualcomm mempunyai tugas besar di sektor yang tengah diincar oleh Intel.

Broadcom merupakan salah satu perusahaan yang mempunyai tugas besar di sektor sentra data. Sedangkan Qualcomm berstatus sebagai pemimpin pasar global dalam urusan penyedia chip untuk ponsel pintar.

Intel sendiri tengah melipat gandakan anggarannya di bisnis sentra data. Hal tersebut diwujudkan dengan menjadi penyuplai untuk nama-nama menyerupai Amazon dan Microsoft. Keduanya bahkan sanggup menghabiskan puluhan miliar dollar AS tiap tahunnya untuk menyebarkan teknologi cloud milik mereka.

Sektor chip untuk smartphone juga sudah diincar oleh Intel, berkaca pada pergerakan perusahaan ini dengan menyuplai iPhone milik Apple, sekaligus mengambil alih porsi milik Qualcomm.

Satu tantangan yang sanggup dihadapi oleh Intel yakni perjuangan Qualcomm dalam mengakuisisi, NXP Semiconductors NV. Perusahaan asal Belanda ini merupakan seorang mahir penyedia chip untuk industri otomotif.

Pertaruhan besar pun sudah dilakukan Intel di dalam industri otomotif dengan menggelontorkan dana sebesar USD 15,3 miliar untuk membeli Mobileye. Perusahaan ini merupakan salah satu pemain besar dalam urusan sensor yang dipakai dalam membantu pengendara mengendalikan mobilnya.

Intel sendiri dikabarkan sudah merancang taktik untuk mengakuisisi Broadcom semenjak tahun lalu, berkaca pada perusahaan yang diincar tengah berusaha untuk mengambil alih Qualcomm.

Mahar terakhir yang diajukan oleh Broadcom untuk Qualcomm yakni USD 117 miliar. Jika ajuan tersebut disetujui oleh Qualcomm, maka ini akan menjadi akuisisi terbesar sepanjang sejarah di industri teknologi.