Perjuangan Warga Pedalaman Aceh Cari Sinyal Seharian

0
17

Foto: Agus Setyadi/GobekasiFoto: Agus Setyadi/Gobekasi

Aceh – Warga Desa Melidi Kecamatan Simpang Jernih, Aceh Timur hingga sekarang masih terbatas dalam hal komunikasi. Untuk jaringan seluler, mereka harus terlebih dulu naik ke sebuah bukit. Itupun belum tentu sinyal muncul.

Saban hari, warga pedalaman Aceh Timur ini ramai mengantre ke sebuah bukit yang dikenal dengan sebutan ‘bukit sinyal’. Lokasi ini terletak sekitar setengah jam dari perkampungan. Di sana, tak ada pohon kawasan berlindung. Warga pun harus rela panas-panasan supaya sanggup sinyal.

Uniknya, hanya telepon genggam jadul yang menerima sinyal. Smartphone Android maupun iPhone tidak bakalan menemukan sinyal sama sekali. Datang ke bukit sinyal, warga menaruh ponsel di atas kayu yang sudah dipersiapkan. Di lokasi, ada dua kayu yang dibentuk khusus sebagai kawasan menaruh telepon seluler.

Perjuangan Warga Pedalaman Aceh Nelpon, Cari Sinyal HP Hingga SehariFoto: Agus Setyadi/Gobekasi

Jika sudah ditaruh di sana, dilarang lagi dipegang. Sedikit saja bergoyang, sinyal pribadi hilang. Jika sinyal didapat, warga berbicara dengan menghidupkan pengeras bunyi di telepon. Kadang, sedang asyik berbicara, tiba-tiba sambungan terputus alasannya sinyal hilang.

“Di sini sinyalnya lari-lari. Kadang sanggup kadang tidak. Kalau mendung hingga sehari gak dapat, kadang kami pulang terus,” kata seorang warga Desa Melidi, Salim (42) ketika ditemui, Senin (2/4/2018).

Salim tiba ke Bukit Sinyal untuk menelepon anaknya yang sekolah Sekolah Menengan Atas di Kabupaten Aceh Tamiang. Agar sanggup sinyal, Salim menunggu sekitar tiga puluh menit. Setelah tersambung, ia menanyakan keperluan anak serta kondisi kesehatan sang buah hati.

Perjuangan Warga Pedalaman Aceh Nelpon, Cari Sinyal HP Hingga SehariFoto: Agus Setyadi/Gobekasi

“Nelponnya kalau perlu contohnya jam 12 siang kita harus tiba sebelum jam 12. Kadang belum tentu sanggup jam 12. Kalau perlu cepat itu kadang tidak bisa,” terperinci Salim.

Salim rela panas-panasan di sana demi mendengar kabar sang buah hati. Kain sarung digunakan untuk menutup wajahnya supaya terhindar dari sengatan mentari siang. Di desa ini, hanya warga di sana yang sanggup menelpon sementara tidak sanggup mendapatkan telepon kalau sudah turun dari Bukit Sinyal.

“Demi anak apa pun kita lakukan meski panas begini. Telepon seminggu hingga tiga kali, alasannya anak sekolah kadang butuh uang atau kebutuhan. Kalau uang berapa sanggup itu kirim alasannya kita juga bukan orang mampu. Kita kirim dari sini sama orang, nanti kita telepon ia (anak) suruh ambil,” ungkap Salim.

detikcom dua hari berada di desa ini dan mencicipi hidup tanpa sinyal seluler. Ada empat desa di Kecamatan Simpang Jernih yang masih terbatas dalam hal komunikasi dan listrik.