Ketika Amerika Serikat Jiper Dengan China

0
31

Foto: Getty ImagesFoto: Getty Images

Jakarta – Keputusan pemerintah Amerika Serikat dalam menyudahi transaksi akuisisi Broadcom terhadap Qualcomm mencerminkan betapa takutnya mereka kepada China.

Dengan mempertimbangkan keamanan nasional, pemerintah Amerika Serikat gres saja menyetop perjuangan Broadcom dalam mengambil alih Qualcomm. Hal tersebut dikarenakan hubungan yang dimiliki Broadcom dengan entitas asal China, ialah Huawei.

Berdasarkan keterangan sebuah sumber yang akrab dengan pihak Committee on Foreign Investment in the United States (CFIUS), ia beropini bahwa jikalau akuisisi Qualcomm oleh Broadcom berhasil dituntaskan, maka dalam 10 tahun ke depan akan ada pemain lebih banyak didominasi yang menguasai teknologi komunikasi perangkat mobile, dengan Huawei menjadi calon paling kuat.

“Setelah fenomena itu terjadi maka para operator asal Amerika Serikat tidak akan punya pilihan lain selain membeli perangkat yang dimiliki oleh Huawei,” ia menambahkan.

Huawei sendiri sudah terbilang lebih banyak didominasi di China dan siap menjadi pemegang pasar 5G terbesar di dunia hingga dikala ini, bersaing dengan nama-nama ibarat Ericsson dan Nokia.

Perusahaan yang berbasis di Shenzen, China ini juga sudah semakin mendekati kata setuju untuk bekerja sama dengan sejumlah operator di beberapa negara asal Eropa dan Asia.

Qualcomm pun juga pemain yang tak kalah besar di sektor 5G. Berdasarkan penelitian dari LexInnova, perusahaan teknologi asal Houston, AS, Qualcomm memegang sekitar 15% dari paten terkait 5G di seluruh dunia, mengalahkan Nokia dengan 11% dan akumulasi seluruh perusahaan asal China sebesar 10%.

Sejumlah produsen ponsel cendekia pun mengandalkan Qualcomm dalam menyediakan chip 5G pada simpulan 2018 mendatang, supaya smartphone yang sanggup mengakomodasi teknologi jaringan nirkabel generasi berikutnya tersebut sanggup diluncurkan pada 2019.

Jika Qualcomm bergabung dengan Broadcom, sanggup dibayangkan kekuatan besar yang sanggup dimiliki oleh China dalam menguasai pasar teknologi 5G secara global, sekaligus menjadi ketakutan AS tersendiri.

Keputusan pemerintah Amerika Serikat ini, yang dipimpin oleh arahan dari Presiden Donald Trump, merupakan pemberhentian proses transaksi kelima yang dilakukan menurut pertimbangan dari CFIUS.

“Segala bentuk transaksi yang mencakup merger, akuisisi, dan pengambilalihan Qualcomm oleh Broadcom, baik secara eksklusif maupun tidak langsung, telah dilarang,” tulis keterangan resmi dalam arahan Presiden Donald Trump, ibarat Gobekasi kutip dari Reuters, Rabu (14/3/2018).