Data Ponsel Dicomot Facebook, Netizen Geram

0
72

Foto: unsplashFoto: unsplash

Jakarta – Belum rampung problem penyalahgunaan data 50 juta penggunanya, Facebook harus menghadapi ‘amukan’ netizen yang tidak bahagia data dari ponsel mereka dikumpulkan oleh jejaring sosial tersebut.

Facebook diketahui telah mengumpulkan sejumlah data dari ponsel penggunanya. Informasi tersebut mencakup riwayat panggilan dan pesan pendek (SMS), baik yang diterima maupun dikirim oleh user tersebut.

Temuan tersebut diungkapkan oleh sejumlah netizen di Twitter. Mereka mengetahuinya sesudah mengunduh file ZIP berisi data-data tersebut dari Facebook versi web. Sejumlah pengguna Twitter pun turut membagikan cara mengunduh file tersebut.

Kebanyakan warganet yang mengeluhkan dikumpulkannya informasi mengenai riwayat panggilan dan SMS milik mereka yaitu pengguna smartphone berbasis Android. Mereka pun mengemukakan bahwa data tersebut sudah direkam selama bertahun-tahun.

Aplikasi Facebook untuk perangkat berbasis iOS diketahui memang tidak mempunyai izin untuk mengambil data tersebut pada iPhone. Terlebih, Apple memang membatasi saluran pengembang aplikasi pihak ketiga dalam mengumpulkan informasi sejenis.

Menariknya, pemilik akun Twitter @kellyhclay, yang merupakan pengguna iPhone, mengaku bahwa file ZIP dari Facebook miliknya memperlihatkan bahwa jejaring sosial tersebut menyimpan seluruh kontak yang terdapat di dalam ponselnya. Padahal, ia tidak mempunyai aplikasi Facebook di dalam iPhone miliknya.

Meski hal ini dikeluhkan oleh banyak penggunanya, pihak Facebook menyampaikan bahwa saluran terhadap riwayat panggilan dan SMS yaitu hal yang normal bagi sebuah aplikasi. Terlebih, keputusan juga tetap berada di tangan user untuk memilih apakah mereka ingin memperlihatkan saluran tersebut pada sebuah aplikasi atau tidak.

“Hal terpenting bagi sebuah aplikasi dan layanan yang ingin membantu penggunanya untuk berafiliasi dengan orang lain yaitu memudahkannya dalam mencari orang-orang yang ingin dihubungi olehnya,” ujar juru bicara Facebook, menyerupai Gobekasi kutip dari The Verge, Selasa (27/3/2018).

Selain itu, melalui sebuah goresan pena blog dalam situs resminya, pihak Facebook juga menunjukan bahwa pengumpulan data tersebut bersifat opt-in, jadi user sanggup menghentikannya sewaktu-waktu. Meski perusahaan tersebut tidak menjelaskan bagaimana data tersebut digunakan, mereka menegaskan bahwa informasi yang dikumpulkan ini tidak diperjualbelikan.

Dengan menyeruaknya perkara penyalahgunaan data 50 juta pengguna Facebook oleh Cambridge Analytica terkait dengan perjuangan firma asal Inggris tersebut dalam memenangkan Donald Trump pada pemilihan presiden Amerika Serikat 2016 lalu, tentu para pengguna raksasa jejaring sosial ini merasa khawatir bagaimana data mereka akan dimanfaatkan.