Cerita Di Balik Promosi Jor-Joran Vivo

0
71

Konferensi pers rencana peluncuran Vivo V9. Foto: Rengga SancayaKonferensi pers rencana peluncuran Vivo V9. Foto: Rengga Sancaya

Jakarta – Vivo dapat dibilang sebagai vendor smartphone yang royal soal promosi produk. Produsen asal China ini pernah menggebrak Tanah Air dengan peluncuran smartphone V7 pada 2017 lalu.

Saat itu Vivo berani menggandeng sembilan stasiun televisi demi meluncurkan V7 di Jakarta. Acara peluncuran yang berdurasi satu setengah jam itu ditayangkan secara eksklusif di jam prime time atau waktu di mana masyarakat Indonesia paling banyak menonton televisi.

Gebrakan Vivo juga dilakukan melalui sederet artis yang menjadi pengisi program ibarat Afgan, Prilly Latuconsina, hingga Agnes Monica yang memang menjadi brand ambassador Vivo.

Tahun ini Vivo mengulang gebrakan yang sama, namun dengan produk berbeda yakni Vivo V9. Bedanya lagi, kali ini program peluncuran dilakukan di Candi Borobudur dan menambah jumlah siaran langsungnya menjadi 12 stasiun televisi dan beberapa platform digital.

Gencarnya Vivo soal promosi produk ini mengundang pertanyaan berapa nilai investasi yang dikucurkan perusahaan? Disodorkan pertanyaan tersebut, General Manager for Brand and Activation Vivo Indonesia, Edy Kusuma, menjawab secara diplomatis.

“Sekitar impact yang akan terjadi sesudah program ini dilakukan, misalnya, ternyata Borobudur semakin populer dan membantu ekonomi masyarakat sekitar, dan ekonomi masyarakat sekitar membaik, pemasukan APBD di situ meningkat, itulah value yang tidak ternilai angka yang kita keluarkan sekarang,” ujar Edy di Kembang Goela, Jakarta, Senin (26/3/2018).

Ditanya lebih lanjut soal efek yang dihasilkan dari agresi jor-joran Vivo, Edy mengungkap yang terpenting ialah pesan atau tujuan yang ingin dicapai perusahaan terpenuhi. Untuk program di Borobudur nanti, ia menjelaskan tujuannya ialah untuk meningkatkan kesadaran masyarakat untuk menjaga cagar budaya Candi Borobudur.

Di Balik Promosi Jor-joran VivoVivo V9. Foto: Agus Tri Haryanto/inet

Memang, sebagaimana dikatakan oleh Direktur Warisan dan Diplomasi Budaya Kemendikbud, Nadjamudin Ramli, ketika ini banyak ditemukan sikap wisatawan yang dianggap menyimpang ibarat mengambil video secara diam-diam, melaksanakan gerakan akrobatik, bahkan kencing di atas stupa.

“Jangan hingga ada yang melaksanakan sikap menyimpang, sikap yang tidak terpuji, alasannya ialah ketika ini banyak kita temukan pengunjung Borobudur itu melaksanakan justru perusakan,” ujar Ramli di kesempatan yang sama.

“Ada yang melaksanakan shooting belakang layar dengan cara kamera tersembunyi, melaksanakan gerakan-gerakan akrobatik, kemudian juga bangun di atas stupa, bahkan ada yang lebih nyeleneh lagi pipis di stupa Borobudur,” paparnya.

Soal dampaknya kepada Vivo, Edy menjelaskan bahwa produknya bakal semakin dikenal masyarakat dan otomatis dapat mendompleng penjualan produk. Hanya saja ketika ditanya detail, ia juga enggan memperlihatkan data spesifik.

Anggapan Vivo sedang memperabukan uang pun ditepisnya dengan santai. “Enggak lah jikalau bakar duit sayang dong (uangnya),” kata Edy diselingi tawanya.

Lebih lanjut ia menjelaskan hanya sedang memaksimal dana yang dimilikinya. Dengan dana terbatas, kata Edy, pihaknya berusaha menghadirkan sesuatu yang terlihat megah namun tak banyak mengeluarkan banyak uang.

“Jadi yang dapat kita lakukan ialah ini berkaitan dengan kreativitas kita sebagai tim marketing yang ada di dalam Vivo untuk memberdayakan budget tersebut, kalkualsinya, pehitungannya. Kaprikornus yang kita lakukan akan kelihatan besar tapi sebetulnya tidak besar,” ujarnya.

Dari promosi jor-joran yang dilakukan Vivo, Edy mengaku yang paling utama ialah pesan yang ingin disampaikannya dapat diterima oleh masyarakat dan dapat menghasilkan efek positif.

“Hal yang harus kita pikirkan ialah message. Yang kedua dampaknya, dan ketiga bagaimana maksud dan tujuan kita ter-delivered. Itu yang kita fokuskan dibanding angka,” pungkasnya.