Baterai Berbahan Air Bakal Gantikan Lithium Ion?

0
39

Tim peneliti. Foto: istimewaTim peneliti. Foto: istimewa

Sydney – Prototipe baterai yang memakai air dan karbon untuk menghasilkan energi ini digadang-gadang sanggup menggantikan material litium di masa depan.

Sejumlah peneliti dari RMIT University di Melbourne, Australia, telah membuat baterai proton gres berbahan dasar karbon dan air, yang diklaim lebih irit biaya sekaligus ramah lingkungan dibandingkan dengan material litium.

“Dengan dunia yang terus mencari energi terbarukan, maka akan terdapat seruan yang signifikan terhadap teknologi yang memanfaatkan material murah sekaligus tersedia secara banyak,” ujar Profesor John Andrews yang memimpin penelitian tersebut.

Hasil penelitian ini merupakan baterai proton pertama yang sanggup diisi ulang dayanya. Ia pun sedikit menjelaskan bagaiaman timnya bisa membuat baterai berbahan dasar karbon dan air ini.

Baterai Berbahan Air Bakal Gantikan Lithium Ion?Foto: istimewa

“Kami memanfaatkan karbon untuk menyimpan proton yang dihasilkan oleh air. Baik karbon maupun air sudah tersedia secara melimpah di Bumi,” katanya, sebagaimana Gobekasi kutip dari The Guardian, Senin (12/3/2018).

Baterai yang sama sekali tidak menghasilkan emisi karbon ini sendiri masih dalam bentuk prototipe. Meski begitu, hasil penelitian ini berpotensi sanggup bersaing dengan baterai lithium-ion konvensional.

Andrews menyampaikan bahwa ada kemungkinan bagi baterai ini untuk dikomersialkan. Jangka waktu yang dipatoknya pun sekitar lima sampai sepuluh tahun mendatang.

“Saat sudah sanggup tersedia secara komersial, ini akan menjadi kompetitor bagi Powerwall milik Tesla. Kami pun berharap sanggup melaksanakan penerapan baterai ini dengan skala layaknya power plant kepunyaan Tesla di Australia Selatan, atau bahkan lebih besar lagi,” pungkasnya.

Power plant milik perusahaan besutan Elon Musk yang akan simpulan dalam waktu empat tahun itu sendiri bisa menghasilkan energi sebesar 250 MW. Nantinya, sumber energi tersebut akan disalurkan untuk 50.000 rumah tangga di Australia Selatan.